Images

Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan

Belajar Tanam Yam dari Nigeria

Oleh: F Rahardi
Images ANTARA

Sejak zaman Orde Lama sampai sekarang, wacana kemandirian (ketahanan) pangan melalui diversifikasi selalu didengungkan pemerintah. Faktanya, Indonesia makin rawan pangan karena hanya bergantung pada beras, bahkan gandum.


Memang ada juga diversifikasi pangan dari singkong dalam bentuk bakso dan pempek hingga produksi nasional komoditas ini naik. Sejak 2011, Indonesia berada pada peringkat kedua penghasil singkong dunia, di bawah Nigeria yang berada pada peringkat pertama. Indonesia berhasil menggeser Thailand, yang turun ke peringkat ketiga.


Namun, di lain pihak, Indonesia juga tumbuh jadi konsumen gandum (terigu) dalam bentuk mi dan roti. Tahun 2012, impor gandum Indonesia dalam berbagai bentuk mencapai 6,2 juta ton dengan nilai Rp 21 triliun. Indonesia dicatat oleh Organisasi Pangan Dunia (FAO) sebagai negara pengimpor gandum terbesar nomor lima di dunia.


Di Indonesia, diversifikasi bahan pangan karbohidrat dari beras bukan mengarah ke jagung, sorgum, umbi-umbian, atau sagu dan sukun, melainkan ke gandum yang harus terus diimpor. Beda dengan Nigeria. Negeri ini juga mengimpor gandum, sebanyak 3,9 juta ton, dengan nilai Rp 9,9 triliun. Akan tetapi, mereka tetap memperhatikan bahan pangan lokal. Iklim Nigeria relatif kering dibandingkan Kamerun, Gabon, Kongo, Republik Demokratik Kongo, dan Uganda. Bagian utara negeri ini sudah berbatasan dengan Gurun Sahara. Dengan kondisi iklim seperti ini, Nigeria tidak mungkin menanam padi dengan hasil optimum.


Maka, Nigeria pun menanam jagung. Tahun 2013, hasil jagung negeri ini diprediksi oleh Kementerian Pertanian Amerika Serikat hanya 7,2 juta ton, dan berada pada peringkat ke-13 dunia. Nigeria berada satu level di bawah Indonesia, yang tahun ini diprediksi menghasilkan 7,7 juta ton jagung, dan berada pada peringkat ke-12 dunia. Selain jagung, produk serealia yang masih bisa dibudidayakan di Nigeria hanyalah sorgum. FAO mencatat tahun 2011 Nigeria menghasilkan 6,8 juta ton biji sorgum, dan berada pada peringkat kedua penghasil sorgum dunia setelah India sebagai peringkat pertama dengan hasil tujuh juta ton.


Tanaman semusim


Meski demikian, volume hasil jagung dan sorgum Nigeria masih relatif kecil untuk mengenyangkan 170 juta penduduknya. Maka, pemerintah negeri ini berpaling ke umbi-umbian: singkong, uwi (yam, Dioscorea alata) ubi jalar, keladi, dan pisang olahan (plantain, Musa x paradisiaca). Di dunia internasional, selain keladi, juga ada talas, sénthé (giant taro, Alocasia macrorrhizos), dan pulaka (swamp taro, Cyrtosperma merkusii).


Uwi, talas, dan pisang olahan merupakan bahan pangan penting dunia. Indonesia punya sangat banyak spesies dan varietas uwi, yang kondisinya telantar. Spesies Dioscorea yang dikenal dan dibudidayakan masyarakat Indonesia secara terbatas hanya gembili (Dioscorea aculeata) dan gadung (Dioscorea hispida). Sénthé dan pulaka memang hanya dikonsumsi masyarakat Pasifik Selatan (Samoa, Vanuatu, Tuvalu). Pisang olahan (pisang tanduk, dan pisang kepok) juga bahan pangan penting yang disebut plantain. Komoditas ini sangat populer di Afrika dan Amerika Tengah/Selatan.


Uganda merupakan penghasil plantain nomor satu dunia. Tanaman penghasil karbohidrat ini diperhatikan luar biasa di Afrika, termasuk di Nigeria. Pemerintah Nigeria demikian serius memperhatikan komoditas-komoditas ini demi mengupayakan ketercukupan pangan bagi penduduknya. Upaya ini berhasil baik, hingga Nigeria dicatat oleh FAO sebagai penghasil singkong terbesar dunia. Tahun 2011, hasil singkong negeri ini 52,4 juta ton. Indonesia berada pada ranking kedua dengan hasil hanya 24 juta ton. Nigeria juga produsen uwi dan keladi nomor satu dunia, dengan hasil 37,1 dan 3,2 juta ton, serta ubi jalar nomor tiga dunia, dan plantain nomor lima dunia dengan volume masing-masing 2,7 juta ton.


Di negeri kita uwi, talas, dan keladi telah dilupakan. Dibandingkan talas dan keladi, nasib uwi paling menyedihkan. Terutama uwi sejenis gembili, berukuran besar, yang di Jawa Tengah dan DIY disebut gembolo. Di Jepang, umbi jenis ini disebut nagaimo (mountain yam, Dioscorea oposita), dan dimasak menjadi bubur, sup, serta kuah udon. Nagaimo dibudidayakan dengan serius di Jepang, dan umbi segar maupun gapleknya bisa dengan mudah dijumpai di pasar Tokyo, bahkan di New York. Taiwan juga membudidayakan uwi secara massal, mengolahkan jadi cake dan menyajikannya sebagai dessert di restoran bintang lima.


Selain sumber pangan tanaman semusim, Indonesia juga masih punya komoditas suweg (Amorphophallus paeoniifolius), iles-iles (Amorphophallus muelleri), ganyong (Canna indica), dan garut (Maranta arundinacea). Empat tanaman ini sama sekali tak terperhatikan dengan baik. Suweg justru dikembangkan dengan serius di India. Umbi konjak (Amorphophallus konjac), yang masih sagu genus dengan iles-iles dibudidayakan secara massal di Jepang, RRC, dan Korea untuk bahan konyaku. Di Jateng dan Jatim, masyarakat sudah mulai membudidayakan iles-iles untuk diekspor ke Jepang sebagai substitusi umbi konjak.


Sampai sekarang, masyarakat di sekitar Jakarta masih ada yang membudidayakan kimpul plècèt atau tales dempel (satoimo, Colocasia esculenta var. antiquorum). Sekitar 2.000 SM, kimpul plècèt ini bermigrasi dari Asia Tenggara ke Jepang dan di sana disebut satoimo. Setelah 4.000 tahun beradaptasi dengan iklim temperate, tahun 2005 ada pengusaha mendatangkan satoimo ke Indonesia untuk dibudidayakan sebagai "komoditas ekspor". Para pengusaha ini tidak tahu bahwa satoimo berasal dari Indonesia. Dengan sistem plasma, para petani diminta menanam "talas jepang", dengan iming-iming akan diberi harga tinggi. Talas yang sudah akrab dengan salju ini tentu tidak mau lagi hidup di iklim tropis. Proyek satoimo ini gagal.


Selain aneka komoditas tanaman semusim tadi, Indonesia masih punya tiga andalan tanaman pangan berupa pohon, yakni aren, sagu, dan sukun. Aren menghasilkan tepung dari empelur batang, gula merah, kolang- kaling, dan ijuk. Aren juga nyaris punah di Jawa karena penebangan untuk diambil tepungnya. Kalau aren nyaris punah, sagu justru belum pernah dieksplorasi, apalagi dibudidayakan. Di Jawa, sagu yang juga dikenal sebagai rumbia lebih banyak dipanen daunnya sebagai bahan atap.


Secara umum dikenal dua jenis sagu, yakni rumbia yang tak berduri dan sagu berduri. Selama ini sagu hanya dikenal sebagai bahan pangan penduduk Sulawesi, Maluku, dan Papua.


Sukun juga merupakan bahan pangan penting bagi masyarakat Pasifik, yang di Indonesia juga masih sebatas dimanfaatkan sebagai camilan. Padahal, buah inilah yang pernah menyelamatkan awak kapal Ferdinand Magellan ketika mereka kehabisan pangan di Pasifik, selama pelayaran mengelilingi dunia: 1519–1522.


Biji bayam RRC


Yang cukup rendah hati mau belajar dari negara lain tampaknya RRC. Tersebutlah, tahun 1970-an, Meksiko tertarik pada cerita tentang biji bayam, yang pernah dibudidayakan orang Maya dan Aztec sebelum kedatangan bangsa Eropa. Oleh orang Aztec, tepung (pati) biji bayam dicampur madu, dibentuk menjadi patung dewa Huitzilopochtli. Dalam sebuah ritual, patung ini dipotong dan dibagi-bagi untuk dimakan. Ritual ini dianggap oleh para imam Katolik mirip dengan pembagian hosti (komuni) dalam ritual misa. Sejak itu penanaman bayam dilarang sama sekali.


Meksiko pun menemukan sisa-sisa komoditas ini di pelosok Pegunungan Andes di Peru. Sejak itu, bayam kembali dibudidayakan sebagai bahan pangan. RRC sangat tertarik pada komoditas ini, lalu pada 1980-an, dengan bantuan USAID, negeri ini mengumpulkan spesies bayam dan varietasnya dari seluruh dunia. Terkumpullah sekitar 1.400 varietas bayam. Dari 1.400 plasma nutfah itu, RRC menemukan beberapa spesies liar yang bisa digunakan untuk menciptakan hibrida baru, hingga produktivitas bayam bisa lebih tinggi. RRC lalu mengirimkan varietas-varietas bayam itu untuk diuji coba di 70 negara di dunia.


RRC melakukan itu semua karena pernah menderita kelaparan. Dengan populasi penduduk terbesar di dunia (1,3 miliar), RRC paling rentan masalah pangan. Maka, mereka pun membuat semua nomor satu. Saat ini RRC penghasil gandum, beras, kentang, dan ubi jalar nomor satu di dunia. Selain itu, RRC juga penghasil jagung nomor dua setelah AS, dan talas nomor dua setelah Nigeria. Ini semua mereka lakukan agar tak pernah terjadi "bencana nasional". Sebab, begitu RRC gagal panen, seluruh cadangan pangan dunia tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan RRC. Itulah sebabnya, meskipun semua sudah nomor satu, RRC masih juga gencar mengurus biji bayam.


Dengan melihat fakta-fakta ini, mestinya Indonesia segera "bertobat", lalu mulai membudidayakan semua tanaman penghasil pangan. Untuk itu, kita layak belajar dari Nigeria yang berhasil hidup tanpa beras. Memang bisa saja kita berdalih bahwa Nigeria bisa menghasilkan singkong, uwi, dan keladi nomor satu di dunia justru karena tidak bisa menanam padi. Mencari-cari kambing hitam untuk mengelak dari pekerjaan memang sudah sejak lama menjadi keahlian para petinggi di negeri ini.


F Rahardi

Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Trubus

(Kompas cetak, 29 Juli 2013) 
Learn more »

UU Pemberdayaan Petani dan Sapi

Imange/Foto: Suara Agaria

Oleh Mochammad Maksum Machfoedz 

Sekarang ini secara legal-formal petani sungguh dimanjakan melalui beragam perundangan. Hal ini tampak dari banyaknya dokumen yang menegaskan pentingnya kesejahteraan, kemandirian dan kedaulatan. Program pemberdayaan, pengembangan sistem ketahanan pangan nasional, sampai swasembada, semua memandatkannya.


Persoalan kemandirian dan kedaulatan pangan yang juga menyejahterakan petani akhirnya ditegaskan UU No 18/2012 tentang Pangan. Secara legal-formal, tampaknya UU ini masih dianggap tak cukup. Karena itu, RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (PPP) yang memandatkan kesejahteraan, kemandirian, dan kedaulatan petani baru-baru ini disetujui DPR menjadi UU.


Tanpa menutup fakta masih adanya kontroversi substansi, boleh dikatakan kedua UU itu lebih dari cukup dalam membingkai proteksi dan kepentingan petani. Persoalan menjadi mengemuka ketika beragam tekad politik yang protektif itu ternyata tak pernah jadi realitas lapangan, yang merupakan kebutuhan riil petani, bukan sekadar proteksi legalistik-formalistik.


Untuk menilai betapa kuatnya proteksi legal kedua UU ini bisa disebut pasal paling relevan untuk mencermati krisis pangan mutakhir dan kaitannya dengan importasi umumnya, khususnya impor daging sapi yang tidak kunjung reda.


UU No 18/2012 menyebut pada Pasal 36 (1) "Impor pangan hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri tidak mencukupi dan/atau tidak dapat diproduksi di dalam negeri". Sementara Pasal 31 UU PPP berbunyi "Setiap orang dilarang memasukkan komoditas pertanian dari luar negeri pada saat ketersediaan komoditas pertanian di dalam negeri sudah mencukupi kebutuhan konsumsi dan cadangan pangan pemerintah".


Tanpa UU pun, tuntutan substantif yang mencakup dua pasal ini sebenarnya telah sekian lama jadi tekad pemerintah, yang kemudian dirumuskan dalam segala peta jalan swasembada pangan, dan dokumen lainnya. Kenyataannya, dinamika pangan nasional tidak pernah lepas dari krisis tata niaga dengan penyebab utama besarnya pengaruh importasi.


Selalu saja ada pembenaran legal bagi importasi. Beragam kebijakan pangan, sengaja atau tidak sengaja, memudahkan terwujudnya fakta legal dan rekonstruksi kelangkaan, data pasar sulapan, gejolak sosial rekayasa, dan segala indikasi lapangan, sebagai pembenaran kelangkaan dan wajib impor. Pesimisme mencuat ketika selalu tersuguh realitas aneka krisis pangan seperti kedelai, beras, gula, bawang, cabai, singkong, produk hortikultura umumnya, dan semuanya, sampai krisis daging sapi yang tak kunjung padam.


Rekonstruksi krisis sapi


Bahasa pesimistisnya, "lain legalitas, lain pula realitasnya". Karut-marut tata niaga ini nyaris terjadi pada semua komoditas pangan yang disulap jadi semakin bergantung pada pangan impor dengan pembenaran lebih canggih dari upaya proteksi petani. Model sulapan ini sudah sangat standar dan dipertontonkan dalam aneka pendekatan.


Pembenaran impor biasa dilakukan melalui pelangkaan barang dan pendekatan agitatif. Untuk kasus daging sapi, misalnya, dengan pelangkaan, sekurangnya terdapat sembilan jalur pendekatan: (1) membuat resah konsumen; (2) agitasi industri pemakai bahan baku; (3) membangun keresahan pedagang pasar dan perantara; (4) menggerakkan pekerja terkait; (5) advokasi ke partai politik; (6) menggalang isu politik fraksi DPRD-DPR; (7) negosiasi birokrasi; (8) mobilisasi kritik akademisi; dan (9) menjual fatwa rohaniwan.


Sejumlah modus dekadensi nurani itu sangat standar dan sebenarnya mudah dideteksi. Mudah dideteksi, tetapi tidak pernah dilakukan, meski beragam asas legal dan kekuatan politik dimiliki pemerintah dengan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II-nya. Pertanyaannya, kenapa kekuatan paripurna itu mandul dan kehilangan kekuatan, bahkan acap kali kontroversi yang tampak dalam KIB II ketika krisis komoditas pangan meradang, apa pun komoditasnya.


Spiritualisasi pembangunan, struktur penyelenggara negara, segala kebijakan dan dokumen legal rasanya merupakan kebutuhan mendesak. UU PPP dan UU No 18/2012 tidak pula akan ada manfaatnya ketika penerapannya tidak disertai penguatan spiritual.


Hakikatnya, krisis pangan nasional bukanlah akibat ketertinggalan teknologi. Bukan keterbatasan sumber daya alam dan tidak pula krisis legalitas, melainkan krisis spiritual. Yang menggejala adalah krisis nurani di balik segala kekuatan dalam pengendalian dekadensi nurani bisnis yang membunuh petani sebagai produsen domestik, melalui impor dan rentenya. Tanpa kebangkitan kekuatan nurani, rasanya perjalanan sistem pangan nasional akan makin mundur, hopeless... na'uzu billah....


(Mochammad Maksum Machfoedz, Guru Besar Sosial Ekonomi Agroindustri, Fakultas Teknik Pertanian Universitas Gadjah Mada)


(Kompas cetak, 31 Juli 2013) 
Learn more »

Kisah Petani Jujur

Sumadi ArsyahBingung terkadang tentang kondisi politik di negara Indonesia, termasuk di Aceh. Dunia yang satu ini selalu diwarnai warna pro kontra, korupsi yang tak kunjung henti karena uang. Uang memang ujung segala persoalanya, karena uang banyak orang terus saling serang, menindas tertindas, penyembunyian fakta dan segala intrik-intriknya yang kadang membuat saya dan kita semua capek mengikuti perkembangannya.

Ya Rabbi, ya Saidi ya Maulana, Tuhan Pemegang Kekuasaan Langit dan Bumi, kapan bangsa ini bebas dari semua konspirasi-konspirasi politik dan problematikanya. Kasihan rakyat, mereka hidup terjepit dari berbagai sudut kehidupan.
Sebuah kisah petani jujur berikut ini semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi kita.....
Suatu ketika, hiduplah seorang petani bersama keluarganya. Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana. Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, dan hasil alamnya berlimpah ruah.
Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya. Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja. Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. “Inilah hartaku yang paling berharga”, demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.
Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu. Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, “Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. “Ini perintah Raja!”. Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih kebingungan.
Petani itu lalu menjawab, “Untuk apa, sang Raja menginginkan bajak dan kerbauku? “Ini adalah hartaku yang paling berharga, bagaimana aku bisa bekerja tanpa itu semua. Petani itu tampak menghiba, memohon agar diberikan kesempatan untuk tetap bekerja. “Tolonglah, kasihani anak dan istriku…berilah kesempatan sampai besok. Aku akan membicarakan dengan keluargaku…”
Namun, pemimpin pasukan berkata lagi, “Kami hanya menjalankan perintah dari Baginda. Terserah, apakah kau mau menjalankannya atau tidak. Namun, ingatlah, kekuasaannya sangat kuat. “Petani semacam kau tak akan mampu melawan perintahnya.” Akhirnya, pasukan itu berbalik arah, dan kembali ke arah istana.
Di malam hari, petani pun menceritakan kejadian itu dengan keluarganya. Mereka tampak bingung dengan keadaan ini. Hati bertanya-tanya, “Apakah baginda sudah mulai kehilangan kebijaksanaannya? Kenapa baginda tampak tak melindungi rakyatnya dengan mengambil bajak dan kerbau kita? Gundah, dan resah melingkupi keluarga itu. Namun, akhirnya, mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyerahkan kedua benda itu kepada raja.
Keesokan pagi, sang petani tampak pasrah. Bersama dengan bajak dan kerbaunya, ia melangkah menuju arah istana. Petani itu ingin memberikan langsung hartanya yang paling berharga itu kepada Raja. Tibalah ia di halaman Istana, dan langsung di terima Raja. “Baginda, hamba hanya bisa pasrah. Walaupun hamba merasa sayang dengan harta itu, namun hamba ingin membaktikan diri kepada Baginda. Duhai Paduka, terimalah pemberian ini….”
Baginda Raja tersenyum. Sambil menepuk kedua tangannya, ia tampak memanggil pengawal. “Pengawal, buka selubung itu!! Tiba-tiba, terkuaklah selubung di dekat taman. Ternyata, disana ada sebuah bajak yang baru dan kerbau yang gemuk. Kayu-kayu bajak itu tampak kokoh, dengan urat-urat kayu yang mengkilap. Begitupun kerbau, hewan itu begitu gemuk, dengan kedua kaki yang tegap.
Sang Petani tampak kebingungan. Baginda mulai berbicara, “Sesungguhnya, aku telah mengenal dirimu sejak lama. Dan aku tahu kau adalah petani yang rajin dan baik. Namun, aku ingin mengujimu dengan hal ini. Ternyata, kau memang benar-benar hamba yang baik. Engkau rela memberikan hartamu yang paling berharga untukku. Maka, terimalah hadiah dariku. Engkau layak menerimanya….”
Petani itu pun bersyukur dan ia pun kembali pulang dengan hadiah yang sangat besar, buah kebaikan dan baktinya pada sang Raja. Namun sayang, zaman sekarang Sang Raja zaman sekarang sudah tak ada....!
Duhai kawan, berapa banyak yang tak bisa membuka mata hatinya saat ujian tengah dihadapinya, kebanyakan hanya bisa mengeluh, berprasangka buruk bhkan menggap ini sebuah kejadian yang sangat tidak baik bagi hidupnya, padahal barangkaki Allah tengah mengujinya” barangkali ada kebaikan yang sangat besar di balik semua itu, “barangkali itu memang harus kamu lalui” semoga sahabatku ketika menjadi raja semua bisa terbuka mata hatinya kemudian bisa melihat "apa yang tidak bisa dilihat mata".. Selamat berjuang.....
Semoga bermanfaat.........................
Learn more »

Merubah Pandangan Generasi Muda

Generasi muda dapat diartikan bahwa orang yang berumur 15-30 tahun, kalau kita lihat penduduk di negara- negara berkembang di dunia sekitar 13,7%  diusia muda, hal tersebut menunjukan bahwa pemuda memiliki peranan yang penting dalam pembangunan bangsa karena generasi muda dianggap memiliki kekuatan dan memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi. 

Oleh arena itu kita perlu membangun dan mempertahankan karakteristik pemuda melalui 6C yaitu : 

Pertama ; pemuda perlu meningkatkan Comvidence; kepercayaan  atas dirinya yang tinggi dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal yang diluar kemampuannya.  

Kedua ; pemuda harus memiliki Character yang baik seperti jujur, bertanggungjawab, disiplin dan sifat keunggulan lainnya yang tidak merugikan orang lain.

Ketiga; pemuda harus memiliki Competence baik didapat dari pendidikan formal maupun informal sehingga dapat mengembangkan jati dirinya sebagai pemuda yang berguna.

Keempat; pemuda harus memiliki Connection,( jaringan, network bisnis, teknologi dan lainnya) yang dapat mempercepat karier dan usaha dan lain-lain

Kelima; Pemuda harus meiliki sifat kepedulian (Care), baik kepedulian bagi dirinya, bagi sesama, agama dan negara yang dia cintai, dan C yang  Keenam; pemuda harus memiliki Contribution yang positif bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat  serta lingkungan disekelilingnya. 

Ditulis oleh M. Isnaini Mahulauw,SP.MMA
Learn more »

Peternakan dan Perikanan di Tengah Krisis Global


Sebagai sektor penghasil pangan strategis, sektor peternakan dan perikanan, bersama sektor pertanian lainnya, mengalami dua kondisi berbeda yang agak ekstrim, yaitu: mengalami kenaikan harga tajam pada semester pertama dan mengalami kejatuhan harga yang signifikan pada semester kedua. Pada semester pertama 2008, hampir seluruh analisis tertuju pada melonjaknya harga pangan, sampai 2-3 kali lipat dibandingkan harga pangan di 2005. Tiga faktor utama yang sering dianggap bertanggung jawab terhadap eskalasi harga pangan dan pertanian di tingkat global, yaitu: (1) fenomena perubahan iklim yang mengacaukan ramalan produksi pangan strategis, (2) peningkatan permintaan komoditas pangan karena konversi terhadap biofuel, dan (3) aksi spekulasi yang dilakukan para investor (spekulan) tingkat global karena kondisi pasar keuangan yang tidak menentu (Lihat Arifin, 2008). 

Beberapa komoditas strategis mengalami penurunan harga pada semester kedua 2008, membuat banyak negara berupaya untuk fokus dan mempertajam strategi kebijakan pangannya agar tidak terjadi dampak sosial-ekonomi yang lebih buruk. Krisis keuangan global turut berkontribusi pada menurunnya permintaan komoditas secara umum karena daya beli yang sedang turun sehingga volume perdagangan pangan di tingkat global tiba-tiba berkurang secara signifikan. Walaupun belum terdapat analisis yang komprehensif, laju penurunan harga-harga pangan strategis sangat mungkin berkait erat dengan pergeseran volume perdagangan dari bursa saham ke bursa komoditas.

Pada sektor peternakan, produksi daging sapi nasional 2008 diperkirakan mencapai 465 ribu ton, suatu peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan angka 2007, 346 ribu ton. Meski demikian, produksi ini tidak mencukupi, sehingga harus menggantungkan kebutuhan daing sapi dari pasar luar negeri, terutama Australia dan Selandia Baru. Catatan impor sapi dari Australia mencapai lebih dari 520 ribu ekor (Noor, 2008) yang sebagian besar untuk dipotong, hanya sebagian kecil sebagai induk. Dengan potensi pasar yang sangat besar itu, tidak kurang dari 68 negara antri mencoba memasukkan daging dan produk daging ke Indonesia. 

* * *

Estimasi data konsumsi daging di Indonesia berbeda menurut lembaga, namun berkisar total 2,6 kg/kap/th menurut Survai Sosial Ekonomi Nasional - Badan Pusat Statistik (Susenas BPS), sekitar 1,7 kg daging sapi menurut Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) plus 4,5 kg daging ayam menurut Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI), serta 1,2 kg daging sapi plus 3,1 kg daging ayam menurut Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian (Deptan). Diperkirakan konsumsi daging di 2009 akan mengalami peningkatan. 

Produksi daging ayam diperkirakan 1,4 juta ton pada 2008, suatu peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan produksi pada 2007 yang lalu (Badan Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian, 2008). Walaupun demikian, produksi dan konsumsi daging ayam ini masih sangat sensitif terhadap isu biosafety seperti kasus flu burung serta dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkannya. Sifat konsumsi daging ayam yang sangat elastis terhadap perubahan harga dan perubahan selera konsumen adalah beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pencapaian kinerja stabilisasi harga daging sapi, daging ayam dan produk peternakan ini. Akan tetapi, pada hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha, permintaan daging ayam dan telur di Indonesia meningkat secara signifikan, suatu pola rutin yang terkadang paradoksal apabila dikaitkan dengan upaya pengendalian konsumsi. 

Dalam ekonomi pertanian, karakter perubahan permintaan tinggi seperti ini menjadi ciri khas Revolusi Peternakan, sesuatu yang sangat berkontribusi pada pencapaian ketahanan pangan, kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan ekonomi secara umum. Sektor peternakan memang mewarnai perubahan konsumsi masyarakat dari sumber kalori berbasis karbohidrat menjadi berbasis kandungan protein tinggi. Sekitar 56 persen dari konsumsi daging di Indonesia memang berasal dari unggas; cukup jauh dibandingkan dengan angka konsumsi daging sapi yang hanya 23 persen. Walaupun demikian, angka konsumsi daging unggas yang hanya setara 4,5 kilogram per kapita per tahun itu jelas sangat rendah atau seperlima dibandingkan dengan konsumsi daging negara-negara maju. 

Sektor peternakan sangat berkait erat dengan sistem produksi jagung dalam negeri, sebagai kontributor utama penyediaan pakan ternak, baik langsung maupun tidak langsung. Menurut Angka Ramalan III (Aram III) Badan Pusat Statistik (BPS), awal November 2008, produksi jagung tahun ini diramalkan 15,9 juta ton, terutama karena peningkatan luas panen di Provinsi Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, Lampung, dan Sumatera Utara. Tapi belum mampu mencapai target swasembada jagung, yang seharusnya telah tercapai sejak tahun lalu. Faktanya masih harus memenuhi konsumsi jagung dari pasar impor. 

Hal yang agak positif adalah penggunaan benih unggul jagung hibrida, terutama hasil bioteknologi pertanian. Peningkatan produksi jagung hibrida juga mampu mendukung sektor peternakan karena industri pakan ternak ikut tumbuh pasca stagnansi yang cukup serius pada puncak krisis ekonomi. Membaiknya produksi jagung domestik agak membantu mengurangi ketergantungan sektor peternakan kecil terhadap pakan impor, dan sempat memberikan ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi. Akan tetapi, karena laju konsumsi jagung yang tumbuh lebih cepat, Indonesia masih harus mengandalkan jagung impor dalam jumlah yang cukup besar. 

***

Untuk sektor perikanan, Indonesia masih mengandalkan ekspor ikan dan udang, khususnya ke Taiwan, Jepang, Korea dan sedikit Amerika Serikat. Produksi ikan secara kumulatif pada 2008 diperkirakan 8,1 juta ton, suatu peningkatan yang sangat signifikan (32 persen per tahun) dari angka produksi 6,1 juta ton pada 2004. Berhubung begitu kuatnya keterkaitan sektor perikanan tekanan ekonomi global, masyarakat sangat khawatir akan dampak krisis keuangan global saat ini, khususnya terhadap kesejahteraan nelayan, terutama nelayan skala kecil dan menengah. Sebelum krisis keuangan global, produksi perikanan di tingkat global diperkirakan 7,5 juta ton, termasuk 3,8 juta berasal dari budidaya udang. Maksudnya, produksi udang budidaya telah melebihi produksi perikanan konvensional, karena semakin intensifnya usaha budidaya udang. Angka ini lebih banyak didorong oleh tingginya produksi udang budidaya selama lima tahun terakhir dengan tingkat pertumbuhan 21 persen per tahun. Laju pertumbuhan udang budidaya diperkirakan melambat pada 5-6 tahun mendatang, dengan laju pertumbuhan 6 persen atau kurang.

Beberapa analisis telah menyimpulkan bahwa dampak langsung dari krisis keuangan global adalah menurunnya permintaan, terutama dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Akibat berikutnya dari kontraksi pasar ini adalah penurunan harga produk perikanan dan bahkan kekhawatiran gagal bayar karena persoalan finansial pada perusahaan skala besar. Disamping itu, kekhawatiran negara-negara besar importir produk perikanan terhadap dampak ekonomi global adalah kemungkinan penggunaan teknik budidaya perikanan yang tidak ramah lingkungan, karena nelayan mencoba untuk mengurangi biaya produksi. Apa pun yang terjadi, sektor perikanan di Indonesia perlu juga melakukan eksplorasi pasar-pasar ekspor baru, yang mungkin tidak terlalu ketat menerapkan persyaratan, seperti bidang lingkungan hidup dan sebagainya. Langkah-langkah pengembangan baru memerlukan kemampuan intelijen pasar yang tangguh, peraturan yang dapat merugikan dan tentu saja kemampuan analisis selera konsumen, dan sebagainya. 

Terakhir, untuk para pejuang sektor peternakan masih harus berusaha keras meningkatkan produksi dan produktivitas daging sapi dan daging ayam, karena akan menjadi ciri khas indikator ketahanan pangan. Disamping itu, pada sisi konsumsi, para stakeholders ini (pemerintah, swasta dan masyarakat) perlu berjuang keras meningkatkan laju konsumsi daging ini untuk menunjukkan peran nyata terhadap kualitas gizi dan protein masyarakat dan tentunya kecerdasan bangsa Indonesia secara umum. (**)



Learn more »

Gerbang Desa antara Gagasan dan Kondisi Faktual

Kabupaten Tasikmalaya memiliki  visi pembangunan pada tahun 2011-2015 adalah : “Mewujudkan Kabupaten Tasikmalaya yang Religius Islami, Unggul dan Mandiri Berbasis Perdesaan”. Visi tersebut ditunjang dengan 4 misi nya, yaitu : 

1. Mewujudkan masyarakat yang beriman, bertaqwa, berakhlaqulkarimah, berkualitas dan mandiri, 
2. Mewujudkan perekonomian yang tangguh berbasis perdesaan dengan keunggulan agribisnis, 
3. Mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance)
4. Meningkatkan ketersediaan dan kualitas insfrastruktur wilayah berbasis tata ruang yang berkelanjutan.
Untuk mewujudkan visi misi tersebut tentunya diperlukan kerja keras dari segenap jajaran pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya. Salah satu usaha mempercepat proses pembangunan di wilayah ini adalah dengan Gerakan Bangun Desa (Gerbang Desa). Nama Gerbang Desa sesungguhnya bukanlah istilah baru atau bukan sesuatu konsep percepatan pembangunan yang baru. Istilah tersebut sudah banyak dipakai oleh pemerintah daerah lain, lembaga swadaya masyarakat dan lain–lain. Seperti di Bogor, Gerbang Desa merupakan nama dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus pada (1). Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa, dan (2). Pemberdayaan Pemuda Desa. Gerbang Desa Hillifalago di P. Nias Sumatra, dan masih banyak nama Gerbang Desa di daerah-daerah lain dengan pola dan pendekatan yang berbeda. Nama “Gerbang” sering diidentikkan dengan pintu masuk suatu wilayah desa, kampung, kecamatan atau kabupaten dan tempat-tempat tertentu, bahkan digunakan sebagai Gapura atau Kaca-kaca (Sunda) yang memberi ciri, tanda kepada pihak lain yang akan memasuki daerah, wilayah, kawasan yang menjadi tujuan. Gerbang  dimaknai juga sebagai pintu.
Gerbang Desa yang diusung oleh Bupati dan Wakil Bupati terpilih UU Ruzhanul ‘ulum-Ade Sugianto pada Pemilukada Kabupaten Tasikmalaya 2011, terinspirasi oleh fakta dan data di lapangan khususnya daerah pedesaan di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, yang belum tersentuh oleh pembangunan, baik infra struktur perhubungan, perekonomian rakyat pedesaan, pendidikan, pertanian, dan sebagainya. Kondisi tersebut menyadarkan kepada kita, seluruh komponen masyarakat, aparat pemerintahan daerah atau desa, dan pribadi H. UU sebagai salah seorang kandidat Bupati pada waktu itu, untuk mencanangkan program percepatan pembangunan di daerah pedesaan. Program dimaksud diberi nama Gerakan Bangun Desa (Gerbang Desa). Gerakan ini menjadi produk unggulan yang akan dijual pada Pemilukada 2011. Pada awalnya gerakan ini disosialisasikan dan dilakukan oleh H. UU dan sejumlah pemuka agama/masyarakat dan alumni Ponpes Miftahud Huda Manonjaya yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tasikmalaya.
Sebenarnya yang melatarbelakangi gerakan-gerakan pembangunan di berbagai daerah di Indonesia, lebih ditekankan pada kondisi riil di berbagai daerah, terutama yang berkaitan dengan kemiskinan, seperti yang diyakni Mawardie, bahwa sebagian besar masyarakat miskin berada di desa, oleh karena itu, pembangunan sudah sewajarnya difokuskan di desa sebagai upaya mengatasi kemiskinan. Pembangunan selama ini, lebih banyak di arahkan di kota, hal ini menyebabkan aktivitas perekonomian berpusat di kota. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya migrasi dari desa ke kota. Masyarakat desa dengan segala keterbatasan pindah ke kota mengadu nasib dan sebagian besar dari mereka menjadi persoalan besar di kota.
Disisi lain, kondisi di desa tidak tersentuh pembangunan secara utuh, infrastruktur dasar tidak terpenuhi, aktivitas ekonomi sangat rendah, peluang usaha  juga rendah, sarana pendidikan terbatas, sebagian besar baru terpenuhi untuk sekolah dasar saja. Kondisi ini menyebabkan tidak ada pilihan lain bagi masyarakat desa untuk merubah nasibnya, yaitu dengan merantau ke kota. Pada kenyataannya, seluruh potensi sumber daya alam, sebagai raw material aktivitas penunjang perekonomian bisa dilaksanakan tanpa ada support bahan baku yang diproduksi di desa. Kondisi ini yang harus segera diselesaikan melalui strategi pembangunan desa yang tepat dan teritegrasi.
Fakta lain memperlihatkan ekploitasi sumber daya alam di desa secara besar besaran, dengan tidak mencermati daya dukung lingkungan serta tidak melibatkan masyarakat setempat, dengan alasan kemampuan rendah dari masyarakat setempat, menyebabkan kerusakan lingkungan, baik fisik maupun sosial. Kondisi lingkungan menjadi rusak, demikian juga terjadi trasformasi kultur secara negatif, sebagai akibat masuknya para pendatang baru yang menyebabkan strategi pembangunan dalam mengatasi kemiskinan tidak akan berhasil apabila tidak diintegrasikan dalam kebijakan pembangunan berkelanjutan yang secara sadar merubah pola konsumsi masyarakat dan cara-cara produksi yang tidak menunjang keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
Gerakan bangun desa yang diusung H. UU mendapat repon positif dari sejumlah kalangan, baik di kalangan pemuka agama khususnya Pesantren yang berafiliasi dengan Miftahul Huda Manonjaya, kalangan pemuka masyarakat, himpunan alumni Huda, pemerintahan desa, disisi lain gerakan ini mendapatkan tantangan dari berbagai pihak terutama rival politiknya, alasannya cukup sederhana bahwa gerakan tersebut merupakan kampanye terselubung dan mencuri start. Tantangan tersebut berpengaruh terhadap implementasi gerakan bangun desa yang dicanangkan H. UU,  karena tidak semua kepala desa  dalam proses pencalonan dalam pemilukada, serta tidak semua kepala desa berafiliasi pada Partai Persatuan Pembangunan. 

Sehingga pada tataran operasional gerakan bangunan desa sebelum H. UU menjadi Bupati Tasikmalaya, mengalami berbagai tantangan dan hambatan, khususnya yang berhubungan kepentingan kelompok-kelompok tertentu di masyarakat, pemerintahan desa, lembaga yang ada di desa, perwakilan partai politik di tingkat desa.  Gerakan yang diusung H. UU, adalah tindakan untuk membantu proses percepatan pembangunan terutama di daerah pedesaan, membangun komunikasi antara masyarakat desa dengan pemerintah daerah, membangun komunikasi politik antara rakyat dengan wakilnya di DPRD, memfasilitasi serta mengakomodir  berbagai kebutuhan dan kepentingan masyarakat desa. Pada tahap awal gerakan ini merupakan seperangkat gagasan pembangunan desa, terutama desa-desa yang kondisi sosial ekonominya masih lemah, infra struktur di pedesaan masih lemah. Menurutnya, untuk menopang Gerbang Desa paling tidak ada lima prioritas yang musti dikedepankan, yakni: peningkatan jalan desa, Listrik Masuk Desa, irigasi dan air bersih pedesaan, telekomunikasi dan informasi masuk desa, dan peningkatan pendapatan aparatur desa.
Pilar-pilar Gerbang Desa seperti tersebut di atas, tidak akan berhasil jika hanya sebatas jargon politik semata, konseptualisasi tanpa makna, kurangnya daya dukung sumberdaya manusia yang professional, sumber biaya yang memadai, koordinasi lintas sektoral, kerjasama komponen pemerintah daerah dengan lembaga desa dan masyarakat desa. Oleh karenanya, Gerbang Desa membutuhkan kerjasama dan peran aktif semua fihak serta dibutuhkan daya dukung regulasi untuk operasionalisasi gerbang desa. Dalam hubungan ini gerakan bangun desa secara eksplisit disatukan dalam bentuk rencana strategis pembangunan Kabupaten Tasikmalaya, atau dalam program percepatan pembangunan yang memiliki dasar hukum yang kuat. Hal ini dilakukan agar pada tataran operasionalnya tidak mengalami hambatan atau kendala baik secara teknis administrative maupun dalam masalah politis, sehingga implementasi gerbang desa terdapat sinkronisasi dengan program-program lain di tingkat desa.
Potensi dan Peluang
Wilayah  Kabupaten Tasikmalaya dengan  luas wilayah  lebih kurang  2.712,52 km2 atau 271.251,71 Ha, adalah wilayah yang sangat luas sebanding dengan luas wilayah salah satu provinsi di Indonesia yaitu DIY. Secara Administratif  Kabupaten Tasikmalaya terbagi kedalam 39 Kecamatan dan 351 Desa. Secara geografis terletak antara 7002’ – 7050’ LS dan 109097’-108025’ BT, dengan batas-batas wilayah : Sebelah Utara  : Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya Sebelah Timur  : Kabupaten Ciamis, Sebelah Selatan : Samudera Indonesia, Sebelah Barat : Kabupaten Garut . Kondisi topografi Kabupaten Tasikmalaya berkisar antara 0 – 3.000 m.dpl, secara umum daerah tersebut dapat dibedakan menurut ketinggiannya, yaitu bagian utara merupakan wilayah dataran tinggi dan bagian selatan merupakan wilayah dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0 – 100 m.dpl.
Kabupaten Tasikmalaya pada umumnya beriklim  tropis, dengan temperatur rata-rata berkisar antara 20o – 34o C dengan kelembaban udara bervariasi antara 61% – 73%. Curah hujan rata-rata per bulan 217,195 mm, dengan jumlah hari hujan efektif sebanyak 84 hari. Wilayah Kabupaten Tasikmalaya berada pada dasar lekukan terendah dari punggung pegunungan Pulau Jawa dan Gunung Galunggung sebagai puncaknya, sehingga termasuk pada wilayah tangkapan hujan. Di Kabupaten Tasikmalaya terdapat 5 (lima) Daerah Aliran Sungai (DAS), 36 sumber mata air, 31 situ (danau kecil), bendungan 23 buah dan 368.793 m saluran pembawa air (irigasi). Potensi Hidrografi memberikan peluang yang besar sebagai modal dasar pembangunan, baik untuk keperluan air minum, irigasi, pariwisata maupun industri. Sebagai modal dasar pembangunan, potensi penduduk di Kabupaten Tasikmalaya relatif besar dengan jumlah  penduduk  1,6 juta jiwa,  potensi sumberdaya alam yang berlimpah memberikan peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan asli daerah. Jika potensi sumberdaya alam di kabupaten Tasikmalaya diupayakan secara maksimal akan berdampak pada percepatan proses pembangunan desa melalui Gerbang Desa.
Beberapa jenis potensi yang dimiliki Kabupaten Tasikmalaya antara lain sumberdaya bahan galian/mineral, dan beberapa jenis komoditi perkebunan seperti yang dikutip dari Sumber Data Dit. Sumberdaya Mineral Bandung dan sumber data  lain menyebutkan bahwa di Kabupaten Tasikmalaya memiliki potensi bahan galian dan mineral untuk industri yang sangat besar, seperti tersebut di bawah ini;
Tabel 1. Potensi bahan galian dan mineral
No
Jenis bahan galian
Lokasi
Keterangan
1PerlitKarangnunggalCadangan belum diketahui
2KaolinKaraha-Kadipaten, Padawaras, KarangnunggalCadangan 1.025.400 ton
3OniksCiharahas, CigunungCadangan belum diketahui
4BelerangKawah karaha dan gungung galunggungCadangan 29.675 ton (tipe sublimasi 20.000 ton, tipe endapan lumpur 9.675 ton)
5BentonitKarangnunggal,
No
Jenis
Lokasi
Kapasitas produksi
1KaretSalopa, Cipatujah, Jatiwaras1.143,19 ton/tahun
2CengkehPuspahiang, Salawu, Bojonggambir32,43 ton/tahun
3LadaCipatujah, Karangnunggal, Bojonggambir17 ton/tahun
4NilamSukaresik, Pagerageung, Sariwangi, Leuwisari90,70 ton/tahun
5KelapaKabupaten Tasikmalaya22.645 ton/tahun
6Kopi5.466 ton/tahun
7TehTaraju, Bojonggambir, Sodonghilir, Salawu10.264 ton/tahun


ManonjayaCadangan  6 juta ton telah diusahakan
Cadangan belum diketahui6DolomitCibalongCadangan belum diketahui pasti7BaritPancatengah, dan CineamCadangan belum diketahui (6 Ha di daerah Cineam dan selebihnya di daerah Pancatengah), pernah diusahakan8ZeolitKarangnunggal, Cipatujah, CikalongCadangan tereka 39.435.125 ton9GypsumKarngnunggal,Cadangan belum diketahui10Kayu terkersikanCipatujahCadangan belum diketahui11BatugampingSukaraja, Taraju, Sodong-hilir, Salopa-Cikatomas.Cadangan ratusan juta ton12.MarmerCigunung, KarangnunggalCadangan jutaan ton (di daerah Cigunung luas sebaran 50 Ha belum termasuk di daerah Karangnunggal)13.KalsitCigunungCadangan belum diketahui14.Kalsedon dan AgatCikarakas, Cigunung, Pancatengah, CipatujahTersebar dg cadangan cukup banyak (di daerah Cikarakas, Cigunung cadangan tereka 250.000 m3)15.FosfatSukaraja dan Deudeul, TarajuCadangan belum diketahui16.FeldsparKarangnunggalCadangan bel;um diketahui17.PasirSekitar kawasan sayap Gn. Galunggung, Cipatujah (pasir sungai) dan daerah lainnya secara tersebarCadangan ratusan juta ton18.AndesitSekitar kawasan sayap Gn. Galunggung, Cipatujah (pasir sungai) dan daerah lainnya secara tersebarCadangan puluhan juta m3 (tersebar)19.SirtuSekitar kawasan sayap Gn. Galunggung, Cipatujah (pasir sungai) dan daerah lainnya secara tersebarCadangan jutaan m3 (tersebar)20.Tanah liatTersebar di Karangnu-nggal, Bantar kalong, Cipatujah, Sukaraja, Cibeureum, Cisayong, PagerageungCadangan jutaan ton. Tanah liat di daerah Cipatujah, Bantarkalong sangat baik untuk bahan baku keramik.
Sumber data : Dit. Sumberdaya Mineral, 2010
Tabel 2. Potensi pertanian dan perkebunan di Kabupaten Tasikmalaya
Sumber data : Dit. Sumberdaya Mineral (2010)
Sumber daya alam yang dimiliki kabupaten Tasikmalaya  seperti tersebut di atas, merupakan nilai-nilai potensial daerah, nilai-nilai potensial dimaksud perlu ditumbuhkan dan dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sekaligus sebagai sumber pendapatan asli daerah. Pendekatan kesejahteraan dari aspek geografi perlu ditunjang oleh pendekatan keamanan, pendekatan keamanan dimaksudkan sebagai upaya untuk menjaga dan memelihara nilai-nilai potensial tersebut agar dalam eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam dilakukan secara seimbang antara peningkatan kesejahateraan rakyat dengan penggalian sumberdaya alam/lingkungan melalui kebijakan pemerintah daerah yang proporsional.
Gerakan bangun Desa dalam konteks geografi/wilayah dan lingkungan perlu mendapat perhatian dan dukungan dari pihak-pihak terkait, termasuk masyarakat desa dan lembaga-lembaga yang ada di desa. Perhatian dimaksudkan sebagai upaya semua pihak untuk memperhatikan faktor-faktor lingkungan alam, lingkungan manusia/masyarakat sekitar, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dalam pengelolaan lingkungan alam.
Dalam pengeloaan sumberdaya alam, maka modal sosial (social capital) sangat diperlukan, modal sosial yang dimaksud antara lain; gotong royong, musyawarah, keswadayaan, kearifan local, masalah tersebut menjadi begitu  penting untuk dijadikan alasan dan acuan dasar bagi kehidupan demokrasi di Indonesia dewasa ini. Lemahnya modal sosial pada gilirannya juga mendorong pergeseran perubahan perilaku masyarakat yang semakin jauh dari semangat kemandirian, kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama. Gerakan bangun Desa memberikan solusi terbaik untuk mengeleminir persoalan kehidupan masyarakat yang mulai mendapat goncangan nilai-nilai dari luar yang masuk di masyarakat desa.
Kemiskinan dan Masalah Pembangunan Desa
Jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya tahun 2010 sebanyak 1.676.544 jiwa, terdiri dari pria sebanyak 836.052 jiwa, wanita sebanyak 840.492 jiwa, dengan kepadatan 619 jiwa/km2. Jumlah penduduk yang besar dari sebuah kabupaten adalah merupakan potensi bagi daerah yang bersangkutan, namun disisi lain adalah sebuah masalah bagi pengelola pemerintah daerah. Masalah kependudukan tidak terlepas dari berapa besar angka kemiskinan, pengangguran, angka kelahiran, kematian, migrasi penduduk, tenaga kerja dan lapangan kerja, kesehatan, gizi keluarga dan segudang masalah lainnya.
Hal tersebut tidak mudah bagi seorang kepala daerah untuk mengakomodir seluruh permasalahan yang dihadapi, kendatipun demikian jika segala permasalahan dihadapi dengan arif dan bijaksana, maka permasalahan tersebut lambat laun dapat diatasi dan diselesaikan. Sosok H. UU menjadi tumpuan harapan masyarakat tatar Sukapura, dengan program Gerbang Desanya diharapkan mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapi sebagian besar masyarakat  yang tersebar di 351 desa. Persoalan yang paling mendasar adalah kemiskinan yang tersebar di desa-desa. kondisi ini menjadi pusat perhatian H. UU sekaligus pekerjaan berat untuk mencarikan solusi yang terbaik bagi kesejahteraan masyarakat luas.
Kemudian permasalahan yang muncul di berbagai daerah termasuk di Kabupaten Tasikmalaya adalah seperti dikemukakan oleh Mawardi ; Pertama; sampai saat ini belum ada konsep/model pembangunan desa yang dapat menjadi solusi secara optimal dalam upaya pengentasan kemiskinan di desa; Kedua; pembangunan desa yang dilaksanakan bersifat sektoral, yang hanya akan memberikan solusi secara parsial  dengan waktu yang bersifat temporer, sehingga tidak ada jaminan kelangsungan program tersebut. Ketiga; sumberdaya manusia di desa-desa  baik aparat maupun masyarakatnya memberikan kontribusi besar terhadap melambatnya berbagai upaya pelaksanaan pembangunan desa itu sendiri. Keempat; keterbatasan sumber dana, baik dari desa maupun dari Kabupaten, Provinsi dan Nasional, merupakan faktor lain yang menyebabkan lambatnya proses pembangunan desa. Disisi lain Anggaran yang disediakan/dialokasikan ke desa, baik dari Kabupaten, Provinsi maupun dari Nasional, cenderung bersifat project, bahkan charity,bersifat sesaat dan berdampak pada golongan tertentu saja di desa. Kelima; perencanaan yang disusun oleh masing-masing desa,  walaupun telah melalui suatu proses yang panjang, yaitu dari Musrenbang, Musrenbangda, (Kabupaten dan Provinsi) serta Musrenbangnas, tetap tidak menujukan suatu streamline yang jelas serta tidak menujukan keterpaduan program (commited programme). bahkan pada kebanyakan kasus perencanaan, usulan dari desa sejak di awal diskusi pada Musrenbangcam, sudah banyak program pembangunan desa yang ditolak/ditunda atau perlu ditinjau ulang. Keenam; sudut pandang dari semua pihak terhadap upaya pembangunan desa masih seperti dulu, yaitu menempatkan desa sebagai suatu objek dengan klasifikasi rendah, sehingga tidak menjadi prioritas dan bersifat seperlunya saja, sehingga dengan memformulasikan suatu program yang bersifat charity, dianggap telah memberikan sesuatu manfaat yang sangat besar.Ketujuh; belum terlihat adanya suatu pemahaman yang menunjukan bahwa desa sebagai sumber utama pembangunan Nasional, sehingga desa patut menjadi sasaran utama pembangunan dan harus ditempatkan sebagai partner utama dalam sistem pembangunan Nasional. Kedelapan;persoalan ketidak jelasan kewenangan yang ada di Pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Nasional menyebabkan terdapatnya berbagai kesulitan dalam menyusun dan mengimplementasi kebijakan Pemerintah Provinsi terhadap upaya pembangunan desa.
Semoga saja apa yang menjadi visi misi Kabupaten Tasikmalaya saat ini mampu diderivasikan dalam tingkatan kehidupan nyata di Tasikmalaya. Sehingga desa sebagai ujung tombak segala macam pembangunan lebih terangkat dalam berbagai aspek kehidupannya sesuai dengan konsep Gerbang Desa. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Oleh : Edi Kusmayadi[1
Learn more »

Hakekat Kewirausahaan

Anda tentu sering mendengar tentang kata “Wirausaha”, “Kewirausahaan” maupun “Wirausahawan” Apakah yang dimaksud dengan “Wirausaha”, “Kewirausahaan” maupun “Wirausahawan” tersebut? Dan apakah beda ketiga kata tersebut? Mari kita simak satu persatu...

Wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber dayasumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses.

Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatankesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.

Intinya, seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki jiwa Wirausaha dan mengaplikasikan hakekat Kewirausahaan dalam hidupnya.

Orang-orang yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam hidupnya. Secara epistimologis, sebenarnya kewirausahaan hakikatnya adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat dan kiat dalam menghadapi tantangan hidup. Seorang wirausahawan tidak hanya dapat berencana, berkata-kata tetapi juga berbuat, merealisasikan rencana-rencana dalam pikirannya ke dalam suatu tindakan yang berorientasi pada sukses. Maka dibutuhkan kreatifitas, yaitu pola pikir tentang sesuatu yang baru, serta inovasi, yaitu tindakan dalam melakukan sesuatu yang baru.

Beberapa konsep kewirausahaan seolah identik dengan kemampuan para wirausahawan dalam dunia usaha (business). Padahal, dalam kenyataannya, kewirausahaan tidak selalu identik dengan watak/ciri wirausahawan semata, karena sifat-sifat wirausahawan pun dimiliki oleh seorang yang bukan wirausahawan. Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan, baik karyawan swasta maupun pemerintahan (Soeparman Soemahamidjaja, 1980).

Wirausahawan adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup (Prawirokusumo, 1997) Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha (Suryana, 2001).

Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing.

Menurut Zimmerer (1996:51), nilai tambah tersebut dapat diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut:
  • Pengembangan teknologi baru (developing new technology)
  • Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge)
  • Perbaikan produk (barang dan jasa) yang sudah ada (improving existing products or services)
  • Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services with fewer resources)

Walaupun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil, namun sifat inipun sebenarnya dimiliki oleh orang-orang yang berprofesi di luar wirausahawan. Jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan dan tantangan, apapun profesinya.

Dengan demikian, ada enam hakekat pentingnya Kewirausahaan, yaitu:

  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994)
  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997)
  • Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.
  • Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959)
  • Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zimmerer, 1996)
  • Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.
Ditulis oleh Izzati Amperaningrum, SE, MM dan Dr. Zuhad Ichyaudin, MBA.
Learn more »

Menciptakan Tradisi Pertanian Berkelanjutan

Kenaikan harga komoditas pertanian seperti cabai dan beras belakangan ini mengingatkan bahwa masih banyak persoalan mendasar dalam sektor pertanian yang belum tersentuh.

Hal itu ditandai fenomena berulang naiknya harga-harga komoditas pertanian. Terlebih dengan fenomena perubahan iklim saat ini yang sedikit banyak berpengaruh terhadap pertanian. Kekhawatiran akan terjadinya krisis pangan dan melambungnya harga pangan seperti yang terjadi pada 2008 juga menghantui berbagai negara.

Laporan FAO (2011) yang mencermati pergerakan 55 komoditas pangan untuk ekspor menyebutkan adanya kenaikan harga mencapai 3,4% pada Januari 2011 yang menyentuh level tertinggi sejak 1990. Volatitas harga pangan tidak terlalu berpengaruh terhadap negara-negara yang tidak bergantung pada impor pangan. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas pangan akan memukul negara-negara pengimpor pangan dengan jumlah penduduk miskin yang cukup besar termasuk Indonesia.

Empat penyebab utama terjadinya volatilitas komoditas pangan tersebut adalah cuaca, tingginya permintaan (terutama China dan India), rendahnya output (keluaran), dan konversi komoditas pangan menjadi bioenergi. Bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi tingginya harga pangan seperti sekarang ini?

Revolusi hijau
Jika berbicara mengenai pertanian, selama ini kita hanya mengacu ke hal-hal yang bersifat positif terkait dengan pertanian. Di sisi lain, ada dampak negatif yang sering kali tidak kita sadari dari kegiatan pertanian.

Memang tak bisa dimungkiri, secara biologis manusia selalu memerlukan pangan dan komoditas pertanian lainnya. Namun, praktik pertanian yang mengabaikan kelestarian lingkungan berpotensi mengancam kesinambungan penyediaan komoditas pangan dan pertanian lainnya yang sangat dibutuhkan banyak orang.

Kebutuhan untuk memenuhi pangan dan upaya peningkatan produktivitas komoditas pertanian dapat ditelusuri dengan dimulainya secara intensif Revolusi Hijau sejak akhir dekade 1960-an. Revolusi di bidang pertanian itu ditandai adanya berbagai penerapan teknologi pertanian, penggunaan bibit unggul hibrida, penggunaan pupuk kimia dan pestisida, dan pembangunan infrastruktur penunjang pertanian.

Gerakan Revolusi Hijau itu awal mulanya di Meksiko, dengan dipelopori Norman Borlaug. Klaim akan kesuksesan Revolusi Hijau dapat dicermati pula ketika pada 1961 India berada di ambang kelaparan massal (mass famine). Pencetus konsep itu, Borlaug, diundang untuk menjalankan pilot project penanaman bibit unggul di Punjab yang akhirnya menyelamatkan India dari ancaman bencana kelaparan.

Istilah Revolusi Hijau pertama kali dipopulerkan William Gaud, mantan Direktur USAID, pada 1968. Di Indonesia penerapan teknologi ala Revolusi Hijau dikenal melalui program pemerintah di era Orde Baru, yakni Bimas dan Inmas. Melalui gerakan masif yang melibatkan penyuluh pertanian dan penyeragaman pola produksi pangan yang dikomandoi dari pusat, Indonesia akhirnya dapat mencapai swasembada pangan pada 1984.

Namun, kemampuan kita dalam berswasembada tidak bertahan lama. Penggunaan teknologi dan input (masukan) pertanian yang berbasis kimiawi tersebut tanpa kita sadari merusak lingkungan. Matinya biota tanah dan hilangnya kesuburan tanah membuat petani makin terjerat dengan penggunaan pupuk kimia yang menyebabkan 'lapar tanah'. Secara gradual tanah makin tergantung pada asupan masukan kimia yang berharga tidak murah.

Meskipun pemerintah menyubsidi pupuk, bukan rahasia lagi jika pupuk bersubsidi tersebut sangat sulit diperoleh ketika petani membutuhkannya. Pada akhirnya terjadi proses pemiskinan petani yang tak terlihat, ketika harga jual komoditas pertanian tidak sebanding dengan biaya yang diperlukan untuk menghasilkannya.

Pertanian ramah lingkungan
Makin terasanya dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian memerlukan perubahan cara pandang dalam menjaga kesinambungan usaha pertanian di Indonesia. Pertanian merupakan kegiatan langsung yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam.

Praktik usaha tani yang tidak mengindahkan kaidah keseimbangan ekosistem dan pelestarian lingkungan, pada gilirannya juga akan berdampak terhadap pertanian itu sendiri. Kita saat ini sering melihat dan mendengar terjadinya kegagalan panen akibat pengaruh iklim.

Untuk memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, ada baiknya melihat konsep pertanian berbasis ekologi atau yang dikenal sebagai ecoagriculture. Konsep itu pertama kali dikemukakan Sara Scherr dan Jeffrey McNeely pada 2000.

Visi ecoagriculture ini berupa pengelolaan sumber daya yang terdapat di perdesaan. Tujuannya peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan, pelestarian keanekaragaman hayati, dan layanan ekosistem serta pengembangan sistem pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Inti pertanian berbasis ekologi itu mendekatkan usaha atau aktivitas pertanian yang selaras dengan berjalannya fungsi ekosistem sesuai sifat alamiahnya. Siklus gizi/unsur hara tanah dan struktur keanekaragaman hayati terjaga sehingga mampu menciptakan sistem pertanian yang tahan terhadap gangguan hama dan memiliki sistem pemelihara unsur hara tanah yang alami. Dengan demikian, petani tidak akan bergantung lagi pada pengadaan masukan pertanian dan pengendali hama yang berbasis bahan kimia.

Di samping itu, dengan penerapan sistem pertanian yang ramah lingkungan itu, bibit-bibit lokal yang selama ini tergusur oleh bibit hibrida produksi pabrik bisa dihidupkan kembali. Ketergantungan petani terhadap bibit hibrida yang selama ini artifisial diproduksi perusahaan–perusahaan multinasional penghasil benih dapat dikurangi atau bahkan sama sekali dihilangkan sehingga petani memiliki kemerdekaan untuk menanam benih yang sesuai dengan kondisi alam setempat dan tidak berbiaya mahal.

Ongkos produksi pertanian pun pada gilirannya dapat ditekan, sementara keluaran pertaniannya dapat memenuhi persyarataan komoditas pertanian organik yang berharga tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani. Diharapkan pula, komoditas pertanian yang bebas bahan kimia dan rekayasa genetik itu dapat menghasilkan bahan makanan yang aman dan sehat untuk dikonsumsi manusia.

Singkatnya, konsep ecoagriculture ini memadukan strategi konservasi alam dan pembangunan secara simultan. Petani dan masyarakat perdesaan merupakan aktor kunci dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem. Tentunya, untuk menyukseskan konsep itu, diperlukan koordinasi dan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, dalam menciptakan lanskap pertanian yang berkelanjutan.

Penulis : Teddy Lesmana, Peneliti di Pusat Penelitian Ekonomi LIPI dan USAID Forecast Indonesia Scholar di Uni

Sumber : www.mediaindonesia.com
Learn more »

Visi & Misi

VISI
Terwujudnya kedaulatan, kemandirian, keadilan, dan kesejahteraan petani Aceh

MISI
Memfasilitasi, mengadvokasi, mencerdaskan dan menjembatani aspirasi petani Aceh untuk terwujudnya kedaulatan, kemandirian, keadilan dan kesejahteraan petani.