Images

Tampilkan postingan dengan label Rehat Sejenak. Tampilkan semua postingan

Untukmu Ibu..!

Aku melihat sorot mata yang menatap tajam tubuh rapuhku, dan aku rasakan hangatnya kasih sayang dari tatapmu. Saat aku harus terpaksa tersungkur dalam perjalanan, saat aku harus menangis dalam keta’mengertian. Sekejap, bahagia mengalir dalam aliran darahku. Karena setiap kata yang kau ucap, bagai suntikan darah baru yang menggantikan darah pengecutku, menggantikan darah kerapuhanku.

Sekarang aku jauh darimu, disudut kota yang aku tak mengenalnya. Dan jarang sekali aku melihat tatapan itu lagi, jarang sekali aku menikmati senyum manis yang sejukkan hati. Tapi indah senandungmu masih terngiang dalam sisi ruang telingaku, dan tak akan pernah aku hapus. Kau tau….? Disini aku-pun kadang terjatuh, aku tak mampu menahan hempasan kesedihan yang terkadang sangat kejam menerpaku. Tapi setidaknya aku masih menyimpan kidung yang pernah kau lantunkan untukku, hingga bisa selalu aku dengar. Aku masih punya rangkaian kata indahmu, untuk selalu aku resapi. Dengan itulah aku kembali berdiri, kembali menatap apa yang aku cari.
Meski saat ini kita tak bersama, tapi indah kasihmu masih membelai lembut hati. Meski tubuhmu saat ini tak ada disampingku, tapi hangat pelukmu masih terasa, saat dingin menyelimuti.
Aku hanya tak ingin menyakitimu, aku takut air mata menetes dari mata indahmu hanya karena keta’warasanku. Aku akan tetap berusaha menjaga hatiku untukmu, aku akan tetap menjaga kasih sayangmu. Karena kasih sayangmu sangat aku butuhkan dalam setiap jejak langkahku, karena manisnya senyummu, hangatnya pelukmu, akan selalu membawa angin sejuk untukku. Dan percayalah, aku akan tetap menjadi anak terbaikmu. untukmu IBU ” .
Aku menangis saat selesai menulis coretan itu. Rasa rindu yang sangat, membuat aku tidak mampu lagi membendung air mata yang sudah menggenang. Sudah hampir enam bulan aku tidak pulang, sudah enam bulan pula aku tidak bertemu dengan ibu. Tangan ku mengambil HP yang letaknya tidak jauh dari aku duduk, aku mau tanya kabar Ibu sama adikku. Jempol tanganku dengan cepat menekan tombol- tombol HP, karena hatiku sudah tidak sabar lagi ingin mendengar kabar Ibu. “ Assalamu’alaikm. Dek, pa kbr?. Gmna kbr Ibu ? “, sebuah sms singkat yang aku kirim untuk adikku.
Aku menuju ketempat tidur untuk merebahkan badanku, karena sudah terlalu lama memandangi monitor dan mata yang memerah karena tangisan. “gimana ya wajah Ibu sekarang ?, ah…pasti masih cantik seperti enam bulan lalu.”, fikiranku bertanya- tanya sambil membayangkan raut Ibu. “kok lama ya, adikku kemana ?. Apa jangan- jangan gak pulsa lagi”, fikiranku masih belum tenang. Aku menarik nafas panjang sambil tetap membayangkan raut Ibu, dengan mata yang tersu menatap langit- langit kamar. Lama- lama mataku mulai terpejam, tidak sabar menunggu balasan sms dari adikku malah jadi ketiduran.
“Bangun nak…!, kapan kamu pulang ?, kok Ibu tidak lihat kamu pulang ?” suara Ibu terdengar merdu ditelingaku. “ayo bangun, kamu tidak mau memeluk Ibu?”, suara Ibu terus terdengar tapi aku tidak melihat beliau. “Ibu dimana ?”, aku mancoba bertanya. Suara yang merdu itu lama kelamaan mulai lirih terdengar, dan akhirnya tidak lagi terdengar. “kriiiiinggggg”, suara HPku berbunyi tidak begitu keras. Tapi getarannya sangat besar, hingga sangat terasa. “ Astaghfirullah…!!! ”, aku kaget karena getaran HP yang letaknya pas disamping telingaku. Ternyata suara Ibu hanya dalam mimpi, dan aku menarik nafas panjang. Tatapan mataku tertuju pada HP, dia yang membuat aku tidak bertemu Ibu dalam mimpi tadi. Aku ambil HP itu, lantas aku baca sms yang masuk tadi. Wa’alaikumslm.Alhamdllh aq sht mas, bgtu jga dgn Ibu. oh ya, mas dpt slm dr Ibu. kta bliau slm syng & kgn. Ibu jg nnya kpn mas pulg?, isi sms dari adikku yang kembali membuat air mataku menetes. Aku juga kangen sama Ibu, aku juga ingin pulang. Tapi harus nunggu sekitar satu bulan lagi, aku harus nunggu libur kuliah dulu baru bisa pulang. Tanganku menyeka air mata yang terus saja mengalir, diiringi isakkan sendu dari mulutku.
Aku menoleh ke arah jam dinding, “Astaghfirullah…, aku belum sholat asar”. Karena ketiduran, sholat asarku jadi gak tepat waktu. Kakiku langsung melangkah ke kamar mandi untuk mandi dan wudlu, meski aku masih merasakan lelah. Selesai wudlu, aku menunaikan kewajibanku kepada Sang Khaliq. Setelah selesai sholat dan dzikir yang lumayan singkat, air mataku kembali menetes. “Ya Rabb, ampuni segala dosaku dan ampuni pula dosa kedua orang tuaku. Berikan mereka kesehatan, berikan mereka lapang dada karena harus jauh dari aku. Berilah aku kesabaran, karena aku harus jauh dari mereka. Terutama Ibu yang sangat dekat denganku, dan sangat aku sayangi.”.
Kata- katamu adalah kidung, yang selalu aku dengarkan saat aku merasa rindu padamu. Suaramu adalah obat bagiku, saat aku harus terluka oleh kejamnya kehidupan. Ucapanmu adalah nada, yang selalu menemani dalam setiap langkahku. Sentuhanmu adalah makna, yang selalu menegurku saat aku salah melangkahkan kaki. Pelukanmu adalah kehangatan, yang selalu menemaniku saat dingin menyapaku. Tatapanmu adalah surga, yang membuat aku takut untuk mebuat tatapmu layu. Untukmu Ibu, akan aku berikan yang terbaik...! 

Sumber : http://coretan-kusam.blogspot.com
Learn more »

Teladan Berbisnis dari Rasulullah

Apa saja nilai warisan dari Rasul yang bisa kita tiru sebagai pengikutnya? Sebagaimana kita ketahui, Rasullullah Muhammad SAW. adalah seorang pebisnis sukses. Beliau menjalani hidup sebagai pebisnis selama 25 tahun, mulai dari ussia 15 sampai 40 tahun. Sementara masa kerasulan beliau hanya 23 tahun.

Beliau menjadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga. Kejujuran (As Siddiqh) dan kepercayaan (Al Amin) menjadi prinsip utamanya dalam berbisnis. Beliau juga seorang yang cerdas (Fathonah) dengan memiliki pikiran visioner, kreatif, dan inovatif. Rasulullah juga pintar dalam mempromosikan diri dan bisnisnya (Tabligh). Istilah sekarang adalah pemasaran atau marketing.
Keempat kualitas pribadi ini menyatu dalam diri beliau menjadi karakter yang kuat dan melekatlah personal branding “Al Amin” yang kemudian menjadi semacam “jaminan mutu” terhadap siapa saja yang ingin berbisnis dan bertransakti dengan beliau. Maka, terbukalah kesempatan baginya untuk berbisnis tanpa modal alias dengan menjalankan modal orang lain.
Rasululah menjalankan kerja sama dengan sistem upah maupun bagi hasil (mudharabah) dengan Siti Khadijah, seorang pengusaha wanita yang kaya. Kadang-kadang dalam kontraknya Muhammad sebagai pengelola (mudharib) dan Khadijah sebagai sleeping partner(shahibul maal) dan sama-sama berbagi atas keuntungan maupun kerugian. Terkadang pula Muhammad menjadi pebisnis yang digaji/mendapatkan upah untuk mengelola barang dagangan Khadijah. Diantaranya Khadijah pernah mempercayakan kepadanya modal untuk bertolak ke Syiria.
Dalam sebuah pengajian, KH Abdullah Gymnastiar pernah berkisah bahwa kejujuran adalah sesuatu barang langka di dunia bisnis saat ini. Maka, ketika muncul seorang pebisnis dengan citra kejujuran di dalam dirinya, niscaya ia akan menjadi “wealth attractor”. Para mitra akan senang berbisnis dengannya, supplier akan mendahulukan pesanannya, pelanggan pasti tidak tertipu dengan janji-janji yang diberikannya, karyawan pun tentu akan lebih loyal kepadanya.
Seorang kerabat saya beberapa bulan lalu kehilangan 3 buah ruko berikut isinya hangus terbakar api. Miliaran rupiah jerih payahnya selama bertahun-tahun hancur dalam sekejap. Secara hitungan bisnis, ia sudah tamat. Sulit untuk bangkit lagi. Tapi kenyataan berbicara lain. Dalam waktu tidak lama bisnisnya bangkit lagi dan bahkan melebihi besaran bisnis sebelum terbakar. Kenapa? Karena mitra suppliernya mendukungnya dengan sepenuh hati agar bisnisnya bangkit kembali. Mereka memberikan barang dagangan tanpa perlu pembayaran dan jaminan apa pun. Reputasinya yang baik dan kejujurannya telah menyelamatkannya dan membangkitkan bisnisnya kembali. Itulah contoh dari teladan Rasulullah yang telah dibuktikan keberhasilannya.
Selain jujur, Rasulullah juga seorang pebisnis yang smart. Kecerdasan beliau berbisnis juga sangat diakui. Beliau pernah menjual barang dagangan dan meraih keuntungan dua kali lipat dibanding pebisnis-pebisnis yang lain. Ketika Khadijah mendapatinya dengan keuntungan yang sangat besar yang belum pernah diraih siapapun sebelumnya maka Khadijah memberikan keuntungan yang lebih besar daripada yang telah mereka berdua sepakati sebelumnya.
Dari uraian di atas tergambar bahwa Rasulullah adalah seorang pelaku bisnis yang sangat sukses di jamannya. Ada dua prinsip utama yang patut diteladani oleh kita sebagai ummatnya dalam berbisnis. Pertama, uang ternyata bukanlah modal utama dalam berbisnis. Bisnis bisa dilakukan tanpa modal uang sama sekali. Personal branding beliau yang dikenal sebagai “Al Amin” atau dapat dipercaya adalah pengungkit utama kesuksesan bisnisnya.
Kedua, kecerdasan berbisnis atau kompetensi sangat diperlukan dalam mengembangkan bisnis. Modal uang tanpa kecerdasan bisnis tidak ada artinya. Seluk beluk aktivitas bisnis harus dikuasai dengan baik.Rasulullah mengetahui seluk beluk berbisnis sejak dini ketika magang bersama pamannya. Beliau mengetahui di mana pasar yang membutuhkan produknya dan di mana sumber-sumber produk tersebut untuk dijual.
Beliau mengetahui bahwa untuk menjalankan bisnis yang sukses dan berkelanjutan harus ditempuh dengan cara-cara yang baik pula. Teladan ini semakin selaras dengan temuan-temuan mutakhir teori ekonomi dan bisnis modern. Teori-teori itu semakin mendekatkan kepada ajaran-ajaran mulia dari Rasulullah SAW.
Oleh: Badroni Yuzirman
Learn more »

Implementasi Ekonomi Islam Bidang Produksi di Era Umar bin Khattab

Dalam literatur sejarah peradaban Islam, salah satu periode yang dapat diambil sebagai sumber bahan kajian model ekonomi Islam adalah masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab sebagai representasi masa kejayaan Islam dalam segala bidang, termasuk dalam ekonomi. Nabi Muhammad SAW menyampaikan: “Ikutilah dua orang setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar kemudian. Sesungguhnya Allah SWT menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan hatinya.”

Dasar-Dasar Ekonomi Umar bin Khattab

Terminologi produksi di dalam fikih Umar adalah islahul maal (memperbaiki harta), kasab (berusaha), itnarwh (memakmurkan), dan ihtiraf (bekerja). Makna semua aktivitas produksi barang dan jasa adalah memperbaiki apa yang dimiliki dan dimanfaatkan oleh pemilik dan masyarakat seperti tanah, keahlian, berdagang, dan bekerja sebagai pegawai pemerintah. Nilai akhir dari makna produksi merupakan salah satu bentuk kesungguhan bekerja (jihad fi sabillillah).

Karakteristik nilai makna manfaat dalam ekonomi Islam adalah dibenarkan syariah, tidak mengandung unsur bahaya bagi orang lain, dan mencakup manfaat dunia dan akhirat secara seimbang (jasmani dan ruhani). Umar mengatakan, memenuhi kebutuhan hidup minimum keluarga dan masyarakat, mendapat pahala yang lebih baik dari pada mengkhususkan beribadah terus-menerus di dalam masjid tanpa melakukan produktivitas.

Kaidah-kaidah produksi

1. Akidah (keyakinan)

Akidah mendorong keyakinan produsen bahwa aktivitasnya dalam perekonomian merupakan bagian dari peranannya dalam kehidupan. Jika peran tersebut dilaksanakan dengan ikhlas dan cermat, akan menjadi ibadah baginya. Juga keyakinan bahwa hasil usaha, keuntungan, dan rezeki yang diperolehnya semata-mata karena pertolongan Allah dan takdir-Nya.

2. Ilmu

Umar melarang keras melakukan aktivitas perekonomian jika tidak memiliki landasan ilmu hukum syariah. Beliau mengatakan, “tidak boleh berjualan di pasar kami melainkan orang yang benar-benar memahami agama.” Firman Allah SWT dalam Alquran, “ Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang tidak sempurna akalnya dalam mengelola harta yang Allah jadikan sebagai pokok kehidupan.” (QS. An-Nisa: 4)

3. Amal

Umar sangat menekankan atas kehalalan sumber produksi dan menghimbau masyarakat agar menjauhi aktivitas yang haram dan subhat. Umar mengatakan, sesungguhnya berdagang tidak halal melainkan dalam sesuatu yang halal dimakannya dan diminumnya. Pernyataan ini menjelaskan adanya hubungan yang erat antara produksi dan konsumsi.

Prinsip-Prinsip dalam Produksi

1. Akhlak

Umar mengingatkan akhlak seorang produsen agar tidak melakukan kebohongan, kecurangan, menjual atas penjualan orang lain, menimbun, dan merugikan orang lain. Indikator lain mengenai perilaku buruk seorang produsen adalah memahalkan harga, mengeksploitasi, dan menunda dalam melaksanakan hak, sehingga Allah tak akan segan-segan menghapuskan keberkahan dari hartanya, hingga dia pailit dan terlilit utang.


2. Kualitas
Kualitas produksi tidak hanya berkaitan dengan tujuan materi semata, namun sebagai tuntunan Islam dalam seluruh bidang kehidupan. Sebab, prinsip dasarnya bahwa seorang muslim selalu berupaya menekankan kualitas semua pekerjaannya dan memperbaiki seluruh produknya, merupakan bentuk aplikasi firman Allah, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Allah menguji kamu siapa diantaramu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

3. Skala Prioritas Produksi

Beragamnya tujuan produksi, haruslah sesuai dengan tujuan syariah. Tentunya dengan memperhatikan prioritas terhadap produksi barang-barang kebutuhan primer sebelum kebutuhan sekunder dan tersier, tanpa mengabaikan keuntungan usaha dan jumlah biaya produksi.

Prinsip-prinsip tersebut, jika dijalankan akan berdampak positif dan mendapat keuntungan-keuntungan yang sesuai dengan kaidah syariah. (http://salmanitb.com/)

Learn more »

Pemberdayaan Bukan Sekedar Iklan Saja

"Umumnya masyarkat kita terutama di perdesaan memang masih sangat lugu, polos apa adanya. Masyarakat membutuhkan pemberdayaan, bukan karena mereka masih bodoh, tapi karena harus makin tangguh menghadapi tantangan jaman dan cerdas bersikap dalam menghadapi pengaruh dari luar".
Learn more »

Buku Genesis “Chapter & Verse”

Bila Anda berpikir bahwa membaca buku ini untuk mengetahui sejarah Genesis, tentu saja akan sia-sia. Buku ini justru lebih kental menekankan pada nuansa humaniora dan kepemimpinan dalam kehidupan salah satu band berpengaruh di dunia. Yang menarik dalam buku Chapter & Verse adalah referensi praktek kepemimpinan tanpa menguraikan teori yang melandasinya.

Ada tiga hal yang sangat mengwarnai isi buku ini antara lain yaitu; Pertama, sesuatu yang besar bisa dimulai dari iseng yang membuahkan hasil yang awalnya kurang menyenangkan. Kedua, kepemimpinan tidak harus menampilkan ketokohan sentral satu orang, namun bisa secara bersama. Ketiga, konteks follower dalam ranah kepemimpinan tidak musti bermakna mengikuti. (selamat membaca)
Learn more »

Visi & Misi

VISI
Terwujudnya kedaulatan, kemandirian, keadilan, dan kesejahteraan petani Aceh

MISI
Memfasilitasi, mengadvokasi, mencerdaskan dan menjembatani aspirasi petani Aceh untuk terwujudnya kedaulatan, kemandirian, keadilan dan kesejahteraan petani.